Senin, 25 April 2016

Karya Ilmiah Yonas Muanley

Malam ini saya posting skripsi saya tahun 1993. Isi skripsi merupakan jawaban atas pertanyaan yang muncul dalam diri saya ketika saya di kelas II Jurusan Akuntansi Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Negeri Kalabahi Alor-NTT, yaitu mengapa orang yang percaya kepada Yesus Kristus 'menderita'? Silakan ikuti postingan saya untuk isi Bab I berikut ini:

PENDERITAAN
ORANG
KRISTEN INJILI
(Suatu Analisa Teologis Alkitab)


SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Guna Mencapai Gelar Sarjana Theologia

Oleh
YONAS MUANLEY
NIM : 1.90.122



SEKOLAH TINGGI THEOLOGIA INJILI ARASTAMAR
(SETIA)
P.O. BOX 4155, JAKARTA 11041
1993


HALAMAN PENGESAHAN

NAMA                         :  YONAS MUANLEY
NOMOR INDUK        :  1.90.122
JURUSAN                   :  TEOLOGIA
JUDUL SKRIPSI        :  PENDERITAAN ORANG KRISTEN INJILI (Suatu Analisa Teologis Alkitabiah)

            Diterima oleh dewan dosen dan tim penguji Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar (SETIA), Jakarta untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar sarjana pada hari _________ tanggal _______________ 1993
                                                                                   JAKARTA, APRIL 1993
        DOSEN PEMBIMBING                                       KETUA / REKTOR

(EV. IAN REESE FORBES, MA)          (PDT. MATHEUS MANGENTANG, M.DIV)

MENGETAHUI / TIM PENGAMAT
KA. BIMAS KRISTEN PROTESTAN
KANWIL DEP. AGAMA DKI

____________________

TIM PENGUJI

Ketua              : Pdt. Frans Balla, M.Th                                ……………
Anggota          :
Anggota          :
Anggota          :


Ujian di Jakarta pada hari Kamis, tanggal 15 April 1993




KATA PENGANTAR

            Pertanyaaan yang sudah lama terkandung dalam hati penu­lis semenjak penghuni sorga bersukacita atas pertobatan penulis (Luk. 15:7,10) pada sebelas tahun yang lalu kini ingin dijawab secara teologis Alkitabiah melalui kehadiran skripsi ini. Pertanyaan yang dimaksud yakni “mengapa ada peaderitaan di dunia ini?” khususnya yang dialami oleh Orang Kristen.
            Menemukan jawaban atas pertanyaan di atas merupakan suatu usaha yang melalui suatu babak perjuangan yang membutuhkan waktu yang relatif panjang dan telah melibatkan banyak pihak baik dalam barisan pemberi motivasi dan peogarah dalam penulisan. Tersedianya sumber dana yang mencukupi, lebih dari itu adanya dukungan doa dari saudara seiman demi perampungan skripsi ini merupakan suatu anugerah Allah.
            Oleh karena itu, dalam pertimbangant moral yang benar secara teologis maka penulis meayampaikaa ucapan terima kasih. Pertama, syukur kepada Allah yang disapa sebagai Bapa Abadl yang telah mengarunlakan hikmat dan pengertian serta kekuatan kepada penulis sejak persiapan awal sampai selesainya tulisan ini.          
            Kedua, ucapan terima kasih. yang sebesar-besarnya kepa­da (1) Pdt. Matheus Mangentang, M.Div. Selaka, ketua SETIA yang telah mendukung di dalam doa dan memberi dorongan Serta petunjuk-petunjuk kepada penulis sehiagga skripsi ini dapat diselesaikan. (2) Dosen pembimbing yang terdiri dari (a) Ev. Ian. Reese Forbes, MA, (b) Pdt. Edison Djama, S.Th dan (c) Pdt. RLmrod Fiai Faot, MA atas segala kesediaan: dan perhatian membimbing penulis. (3) Seluruh sivitas akademika Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar Jakarta, (4) Ibunda tercinta Oktofiana Muanley, (5) Saudari tercinta Martka Muanley yang telah mencurahkaa perhatian kepada penulis selama studi, khususnya dalam penyelesalan skripst ini. (6) Abang tercinta Edison Muanley, (7) Bapak Soleman Moldena dan Ibu Jablina Moldena/Maanley, (8) Warga jemaat Lanaroy di Masmur, (9) Rekan tercinta Evalita Harianja dan (10) Ev. Emmy Manoe, S.Th serta (11) Sau­dari Sarlince penna yang ikut mendukuag penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
            Kepada semua yang ikut mendukung penulis dalam penyelesaian skripsi ini sekali lagi penulis mengucapkan terima kasih. Harapan penulis kiranya skripsi ini bermanfaat bagi umat Kristiani dalam mengemban panggilan Kristus di bumi.

Jakarta,    1993
penulis,

Yonas Muanley





BAB 1
PENDAHULUAN

            Mengawali bab pendahuluan ini, akan dibahas secara ber-turut-turut pokok peumasalahan, alasan dan tujuan penulisan, ruang lingkap pembahasan, metode penelitian, sistimatika penulisan, penjelasan judul.

Latar Belakang Masalah

            Penderitaan merupakan salah satu tema yang dibicarakan baik dalam dunia sekuler dan dunia agamawi. Penderitaan merupakan fenomena universal artinya “penderitaan tidak mengenal perbedaan manusia. Penderitaan bisa juga dialami oleh manusia-manusia yang dianggap suci, bahkan rasul atau nabi sekalipun.”[1]
            Manusia pada umumnya dan khususnya orang Kristen Injili menghadapi dua kenyataan penderitaan yakni penderitaan fisik dan moral.
            “Penderitaan merupakan bagian yang terpenting dan menarik perhatian media massa di manapun. Hal ini dlsebabkan karena penderitaan merupakan bagian dari kehidupan manusia.”[2]
Pernyataani Ini memberi gambaran bahwa selagi manusia berada di atas bumi ini penderitaan akan dialaminya.
            Pengalaman orang-orang non Kristen terhadap penderita­an. “ada yang mendapat hikmah besar dari suatu penderitaan, ada pula yang mengakibatkan kegagalan dalam hldupnya.”[3] Pen­deritaan juga dialami oleh orang-orang Kristen Injilisepanjang zaman.
            Dari uraian-uraian yang telah diketengahkan di atas maka tibalah pada sorotan teologis atas masalah penderitaam yang dialami orang Kristen Injili. Secara teologis prablema ini berpijak atas dasar Alkitab, khususnya Kejadian 3:1-2:1-. Beberapa dasar Alkitab yang lain yang terdapat dalam Perjanjian Baru seperti; Yohanes 9:1-2 Yoh 16:33; II Tim 3:12; I Petrus 2:19-20. Dalam konrtekb Kejadian 3, penderitaan atau. Kesusahan terjadi dalam kehidupan manusia karena dosa manusia itu sendiri.”[4]
            Di dalam Alkitab sering kali mengungkapkan penderitaan sebagai akibat dari pengujian imam (Ayub 1:1-2:13), umtuk menyatakan pekerjaan Allah atau untuk menyatakan kemuliaan Tuhan Yesus (Yohi 9:1-2), akibat yang lain; yakni mengambil bagian dengan persekutuan dengan Kristus (Yoh 16:33; II Tim. 3:12; I Petrus 2:19-20).
            Dalam sudut pandang teologis menjadi seoramg Kristen tidak berarti bebas dari penderitaan. Dengan. kata lain, orang yang, percaya Yesus Kristus sebagai Tuban dan Juruselamat masih juga mengalami penderitaan. Rasul Paulus berkata “memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya” (II Tim 3:12).
            Dimanapun manusia berada tidak akan luput dari penderitaan. Ini berarti semua orang mengalaminya, baik orang Kristen maupun non Kristen. “Intensitas penderitaan, ada yang berat dan ada yang ringan. Namun peranan individu juga menentukan berat tidaknya intensitas penderitaan.”[5]
            Seperti yang telah dikatakan penulis di atas, penderitaan merupakan suatu tema yang juga dibicarakan dalam Alkitab. Alkitab diyakini oleh orang-orang Kristen Injili sebagai Firman Allah. Oleh karena itu analisa terhadap penderitaan orang-orang Kristen Injili hendaknya dilakukan dalam terang Firman Allah.
            Pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul di sekitar penderitaan ialah mengapa manusia pada umumnya mengalami penderitaan? Sejalan dengan pertanyaan ini Thomas seorang warga Shertallay bertanya atas bencana kelaparan yang menimpa penduduk Shertallay pada bulan November 1941.[6] Melalui puisinya, Thomas  bertanya :[7]
            “Di manakah Allah? Apakah la tertidur sementara jiwa yang tidak terhitung menghadapi kubux yang sepi? Apakah la lihur panjang, sementara Malaikat maut gentayangan, dan kesepian mutlak berkuasa di tempat ini?”

            Sehubungan dengan bencana kelaparan di Shertallay seperti yang disebutkan di atas, Thomas berusaha mencari Allah di tengah-tengah bencana tersebut dengan mengajukan berbagai pernyataan melalui puisinya seperti berikut;[8]
            “... sia-sialah iman kepada Allah yang memelihara, sia -sialah kepercayaan kepada Bapa yang pengasih ... .Tapi untuk semuanya ini, mereka haras lenyap dan gugur, bagai bunga-bunga. di hutan, ... Dari debu mereka berasal, kepada debu pula mereka kembali. Dan Allah ti­dak peduli.”

            Jika demikian, kapan dan dimanakah manusia dibebaskan dari penderitaan? Kalau Allah ada mengapa ada penderitaan? Secara teologis dapat dipahami bahwa penderitaan masuk ke du­nia sebagai akibat dari pelanggaran manusia terhadap Firman Allah dan dunia yang sekarang menjadi lokasi penderitaan dan dunia yang akan datang adalah tempat dimana manusia yang percaya Yesus Eristus bebas dari penderitaan yang kekal (Wahyu 21:8). Hamun penulis tidak akan membahasnya di sini karena hal itu merupakan peristiwa yang bersifat eskatologis.
            Kembali kepada pertanyaan di atas, maka Allah diyakini sebagai Allah yang turut memperdulikan manusia yang menderita, karena Dia telah mengutus anak-Nya lesus Kristus untuk mati di kayu salib.
            Dalam hubungan dengan pernyataan di atas, maka dapat dipahami bahwa manusia yang tidak berdosapun dtlibatkan dalam penderitaan. Namun penderitaan yang dialami-Nya bukan karena kesalahan-Nya tetapi antuk keselamatan manusia berdosa.
            Dalam dunia kekristenan, penderitaan merupakan pengalaman yang senantiasa dialaml. Seiring dengan itu pertanyaan-pertanyaan juga muncul dalam kehidupan orang Kristen, mengapa orang Kristen menderita? Jawabanpun beraacam-macam tergantung dari konteks penderitaan itu.
            Fakta yang Alkitabiah yakni bahwa umat perdana selalu diperhadapkan dengan aniaya. Nasehat rasul Paulus “ ... Untuk masuk ke dalam kerajaan Allah kita haras mengalami banyak sengsara” (Kis 14:22). Aniaya/sengsara Juga pada gilirannya akan dialami oleh orang-orang percaya pada masa kini dan sepanjang sejarah umat manusia. “Oleh karena itu orang percaya mengalami penderitaan tetap menggumuli masalah penderitaan dan berusaha menampungnya dalam rangka imannya akan penyelamatan Allah dalam Kristus Yesus.”[9]
            Berbagai macam pertanyaan muncul, apakah Allah menghendaki penderitaan terjadi dalam kehidupan orang percaya? Apakah Allah memperdulikan orang-orang Kristen Injill yang mendirita? Dan apakah orang-orang Kristen Injili menganggap bahwa penderitaan merupakan bagian dari kehidupannya? Atau haruskah bebas dari penderitaan karena telah percaya Yesus Kristus?
            Bagaimana orang Kristen Injili menghadapi dan menggumuli masalah penderitaan ini? Untuk. memahami latar belakang terjadinya penderitaan dan maknanya maka Alkitabiah yang akan memberikan jawaban yang tepat.
            Alkitab dapat memberikan jawaban yang tepat karena Alkitab lalah kebenaran yang kekal. Kekekalan ini dimungkinkan. karena Alkitab merupakan Sabda Allah dan bukan sabda manusia.

Tujuan Penulisan
            Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan ini (1) Menjelaskan penderitaan yang dialami oleh orang-orang Kristen Injili, dari sudut pandang iman. Kristen. (2) Menganalisa penderitaan orang-orang Kristen Injili dalam bnbusgan - dengan dosa dan pewartaan Injil. (3) Mencari Jawaban secara teologis Alkitabiah terhadap penderitaan. (4) Mengetengahkan latar belakang, makna serta sikap yang positif dari ora­ng-orang Kristen Injili ternadap penderitaan.
            Dengan kata lain tujuan yang hendak dicapai dalam tulisan ini ialah bagaimana mengetahui serta memberikan penjelasan tentang penyebab-penyebab dan makna penderitaan secara teo­logis Alkitabiab serta sikap kristiani dalam menghadapi penderitaan, sehingga orang-orang Kristen Injili dalam kepercayaanya mampu “mempergunakan atau memanfaatkan penderitaan untuk hal-hal yang positif.”[10]

Ruang Lingkup Pembahasan
            Penulisan inl tidak membahas penderitaan secara mendetail karena masalahnya begitu kompleks. Dengan kata lain pe­nulis tidak akan membahas macam-macam penderitaan menurut pe­nyebab secara terperinci, antara lain; penderitaan alasan fisik seperti bencana alam, penyakit dan kematian; penderitaan karena alasan moral sepertl kekecewaan dalam hidup, kebencian orang lain dan seterusnya. Namun di antara dua penyebab penderitaan yang disebutkan di atas akan disinggung secara sepintas karena kedua penyebab penderitaan ltu tidak dapat disingkirkan dari kehidupan manusia khususaya orang Kristen Injili.
            Dengan demlkian maka yang akan dibahas di sini ialah latar belakang penderitaan, makna penderitaan serta sikap ora­ng-orang Kristen Injili dalam menghadapi penderitaan.
            Penderitaan yang akan dibanas di sini ialah penderitaan yang ada habungannya dengan dosa dan penderitaan sebagai akibat dari hidap Kekristenan yang sejati di dalam dunia yang tidak benar. Yang penulis maksudkan dengan Kekristenan sejati ialah kehidupan dalam pimpinan Roh Kudus (Roma &:9-11.
            Penulis jluga tidak akan membahas penderitaan kaum Injili dl seluruh dunia ataupun dl Indonesia secara menyeluruh tetapi hanya menganalisa penderitaan yang dialami umat Kristen perdana. Dalam hal ini pengalaaan rasul Paulus, Petrus, Yohanes, Stefanus mewakili pengalaman rasul-rasul yang lain serta beberapa martyr Kristen seperti uskup Polikarpus dan Blandina dari Lyon, dan beberapa pengalaaan pelayanan masa kini khususnya beberapa mahasiswa/i SETIA, dalam hal ini pengalaman tiga orang mahasiswi menjadi contoh adanya keayataan penderitaan dalam pelayanan masa kini, lebih khusus lagi dalam pengembangan G. K.S.I di bumi Indonesia.
            Dalam penulisan skripsi ini disinggung juga tentang sikap manusia non Kristen dalam menghadapi penderitaan, sehingga pada bab 4 penulis mencantumkan judul bab “sikap manusia terhadap penderitaan menurut konsep Alkitab”, namun hanya merupakan perbandingan saja.

Metode Penelitian
            Untuk menyelesaikan tulisan ini penulis mempergunakan metode-metode  seperti metode kualitatif. Dipergunakan metode ini karena sesuai dengan sistim penulisan skripsi yakni metode kualitatif menyajikan data dalam bentuk penelitian yang tidak mengadakan/perhitungan atau kuantitas.[11]
            Penulis juga menggunakan metode wawancara. Wawancara bersifat tak berstruktur artinya responden mendapat kebebasan dan keseapatan untuk mengeluarkan buah pikiran, pandangan dan perasaannya taapa diatur ketat oleh. peneliti.[12] Wawancara berlangsung, dengan beberapa mahasiswi Sekolah Tinggi Teologia Injili Arastamar (SETIA).
            Selain itu data diperoleh dari tinjauan pustaka. Kepustakaan yang dipakai terdiri atas buku-buku Ilmu Budaya Dasar, buku-buku teologia yang berhubungan dengan iudul dan isi skripsi.

Sistimatika Penulisan
            Bab 2 meagemukakan latar belakang penderitaan menurut koasep Alkitab yang sistimatika pembahasannya meliputi penderitaan ditinjau dari sudut fenomenalogis universal meliputi be­berapa topik pembahasan yang antara lain; penderitaan akibat pemberontakan maausia pertama, penderitaan akibat dari dosa orang lain, penderitaan akibat dosa pribadi, penderitaan aki­bat faktor internal dan eksternal. Sedangkan penderitaan ditinjau dari sudut pengalaman orang Kristen Injili yang mengetengahkan pembahasan tentang penderitaan berkenaan dengan nubuat Yesus Kristus, untuk menyatakan pekerjaan Allah, untuk mengikutl teladan Yesus Kristus, untuk melaksanakan amanat Agung Yesus Kristus yang di dalamnya membahas tentang penderi­taan akibat melawan dosa, pemberitaan Injil secara langsung maupun tidak langsung. Bab ini diakhiri dengan sebuah rangkuman awal.
            Bab 3 memaparkan makna penderitaan orang Kriaten Injili menurut konsep Alkitab. Materi pembahasan meliputi; sarana ujian iman, untuk kemuliaan Tuhan, untuk pertumbuhan iman dan juga membahas penderitaan sebagai sarana kasih karunla ya­ng bertujuan untuk kerendahan hati, demi kasih karunia dan demi pernyataan kemuliaan Yesus Kristus dan demi penyelamatan orang lain dari dosa. Pembahasan dalam bab ini diakhiri deng­an suatu rangkuman awal.
            Bab 4 mengetengahkan sikap manusia terhadap penderita­an menurut konsep Alkitab. Ulasan bab ini terdiri dari sikap manusia non Kristen, menghindari penderitaan, menerima pende­ritaan sebagai partner kesuksesan, menerima penderitaan seba­gai hambatan kesuksesan, menerima penderitaan sebagai taqdir. Sikap orang Kristen Injili di sini meliputi; menghadapi pende­ritaan dengan sikap doa, memahami Alkitab, rela, sabar dan tidak meremehkan. didikan Tuhan, serta menghadapi penderitaan de­ngan sikap iman dan pengharapan. Pembahasan dalam bab ini ditutup dengan suatu rangkuman awal.
            Bab 5 merupakan bab penutup yang berisi rangkuman akhir dan saran-saran, khususnya bagi orang-orang Kristin Injili da­lam menghadapi penderitaan.

Penjelasan Judul
            “Penderitaan” berasal dari kata dasar “derita” yang ditambah dengan awalan “pe” dan akhiran “an”. Menurut KUBI “derita/menderita artinya menanggung atau merasai sesuatu yang tidak menyenangkan.”[13]
            “Orang Kristen” adalah sebutan yang pertama kali diberikan kepada murid-murid yang percaya Yesus Kristus Antiokhia (Kis 11:26). Dalam, perkembangan sedlanjutnya istilah Kristen dikenakan kepada orang-Orang yang percaya Yesus Kristus. Sedangkan istilah. “Injil” artinya yang sesuai dengan isi Injil.
            Kata “analisa” penyelidikan suatu peristiwa atau karangan, perbuatan dan sebagainya, untuk mengetahui apa sebab-sebab agar bagaimana duduk perkaranya.”[14]
            “Teologis Alkitabiah” artinya pemahaman yang sesuai dengan isi Alkitab, karena kata teologis berasal dari kata “teologi” yang berarti ajaran atau doktrin (khususnya agama yang ada kaitannya dengan Allah).[15]
            Jadi yang terkandung dalam judul bagi penjelasan penulisan skripsi ini ialah upaya untuk mengetahui kebenaran peristi­wa penderitaan yang dialami oleh Orang-Orang Kristen Injili tolok ukur pengertian yang sesuai dengan kebenaran Alkitab.




                  [1]Djoko Widagdho dkk, Ilmu Budaya Dasar, hlm
                   [2]Ibid, hlm. 85
             [3]M. Munandar Soelaeman, IBD Suatu Pengantar, hlm. 66
             [4] J. Dwight Pentecost, Pertolongan Tuhan … hlm. 24
             [5] M. Munandar Soelaeman, IBD Suatu Pengantar, hlm. 660
             [6] A. A. Yewangoe, Theologia Crucis Di Asia, hlm. 102
             [7] Ibid, hlm. 103
             [8] A. A. Yewangoe, Theologia Crucis Di Asia, hlm. 103
             [9]C. Groenen, Soteriologi Alkitabiah, hlm. 223
             [10]J.L. Ch. Abineno, Penyakit Dan Penyembuhan, hlm. 46
             [11]Lexy J. Melong, Metodologi Kualitatif, hlm. 2.
             [12]S. Nasution, Metode Kualitatif Naturalistik, hlm. 72
             [13]W.J.S. Poerwadarminta, KUBI, hlm. 245
             [14]Ibid, hlm. 39,40
             [15] Henk ten Napel, Kamus Teologia Inggris – Indonesia, hlm. 160 

0 komentar:

Posting Komentar

Senin, 25 April 2016

Karya Ilmiah Yonas Muanley

Malam ini saya posting skripsi saya tahun 1993. Isi skripsi merupakan jawaban atas pertanyaan yang muncul dalam diri saya ketika saya di kelas II Jurusan Akuntansi Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Negeri Kalabahi Alor-NTT, yaitu mengapa orang yang percaya kepada Yesus Kristus 'menderita'? Silakan ikuti postingan saya untuk isi Bab I berikut ini:

PENDERITAAN
ORANG
KRISTEN INJILI
(Suatu Analisa Teologis Alkitab)


SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Guna Mencapai Gelar Sarjana Theologia

Oleh
YONAS MUANLEY
NIM : 1.90.122



SEKOLAH TINGGI THEOLOGIA INJILI ARASTAMAR
(SETIA)
P.O. BOX 4155, JAKARTA 11041
1993


HALAMAN PENGESAHAN

NAMA                         :  YONAS MUANLEY
NOMOR INDUK        :  1.90.122
JURUSAN                   :  TEOLOGIA
JUDUL SKRIPSI        :  PENDERITAAN ORANG KRISTEN INJILI (Suatu Analisa Teologis Alkitabiah)

            Diterima oleh dewan dosen dan tim penguji Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar (SETIA), Jakarta untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar sarjana pada hari _________ tanggal _______________ 1993
                                                                                   JAKARTA, APRIL 1993
        DOSEN PEMBIMBING                                       KETUA / REKTOR

(EV. IAN REESE FORBES, MA)          (PDT. MATHEUS MANGENTANG, M.DIV)

MENGETAHUI / TIM PENGAMAT
KA. BIMAS KRISTEN PROTESTAN
KANWIL DEP. AGAMA DKI

____________________

TIM PENGUJI

Ketua              : Pdt. Frans Balla, M.Th                                ……………
Anggota          :
Anggota          :
Anggota          :


Ujian di Jakarta pada hari Kamis, tanggal 15 April 1993




KATA PENGANTAR

            Pertanyaaan yang sudah lama terkandung dalam hati penu­lis semenjak penghuni sorga bersukacita atas pertobatan penulis (Luk. 15:7,10) pada sebelas tahun yang lalu kini ingin dijawab secara teologis Alkitabiah melalui kehadiran skripsi ini. Pertanyaan yang dimaksud yakni “mengapa ada peaderitaan di dunia ini?” khususnya yang dialami oleh Orang Kristen.
            Menemukan jawaban atas pertanyaan di atas merupakan suatu usaha yang melalui suatu babak perjuangan yang membutuhkan waktu yang relatif panjang dan telah melibatkan banyak pihak baik dalam barisan pemberi motivasi dan peogarah dalam penulisan. Tersedianya sumber dana yang mencukupi, lebih dari itu adanya dukungan doa dari saudara seiman demi perampungan skripsi ini merupakan suatu anugerah Allah.
            Oleh karena itu, dalam pertimbangant moral yang benar secara teologis maka penulis meayampaikaa ucapan terima kasih. Pertama, syukur kepada Allah yang disapa sebagai Bapa Abadl yang telah mengarunlakan hikmat dan pengertian serta kekuatan kepada penulis sejak persiapan awal sampai selesainya tulisan ini.          
            Kedua, ucapan terima kasih. yang sebesar-besarnya kepa­da (1) Pdt. Matheus Mangentang, M.Div. Selaka, ketua SETIA yang telah mendukung di dalam doa dan memberi dorongan Serta petunjuk-petunjuk kepada penulis sehiagga skripsi ini dapat diselesaikan. (2) Dosen pembimbing yang terdiri dari (a) Ev. Ian. Reese Forbes, MA, (b) Pdt. Edison Djama, S.Th dan (c) Pdt. RLmrod Fiai Faot, MA atas segala kesediaan: dan perhatian membimbing penulis. (3) Seluruh sivitas akademika Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar Jakarta, (4) Ibunda tercinta Oktofiana Muanley, (5) Saudari tercinta Martka Muanley yang telah mencurahkaa perhatian kepada penulis selama studi, khususnya dalam penyelesalan skripst ini. (6) Abang tercinta Edison Muanley, (7) Bapak Soleman Moldena dan Ibu Jablina Moldena/Maanley, (8) Warga jemaat Lanaroy di Masmur, (9) Rekan tercinta Evalita Harianja dan (10) Ev. Emmy Manoe, S.Th serta (11) Sau­dari Sarlince penna yang ikut mendukuag penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
            Kepada semua yang ikut mendukung penulis dalam penyelesaian skripsi ini sekali lagi penulis mengucapkan terima kasih. Harapan penulis kiranya skripsi ini bermanfaat bagi umat Kristiani dalam mengemban panggilan Kristus di bumi.

Jakarta,    1993
penulis,

Yonas Muanley





BAB 1
PENDAHULUAN

            Mengawali bab pendahuluan ini, akan dibahas secara ber-turut-turut pokok peumasalahan, alasan dan tujuan penulisan, ruang lingkap pembahasan, metode penelitian, sistimatika penulisan, penjelasan judul.

Latar Belakang Masalah

            Penderitaan merupakan salah satu tema yang dibicarakan baik dalam dunia sekuler dan dunia agamawi. Penderitaan merupakan fenomena universal artinya “penderitaan tidak mengenal perbedaan manusia. Penderitaan bisa juga dialami oleh manusia-manusia yang dianggap suci, bahkan rasul atau nabi sekalipun.”[1]
            Manusia pada umumnya dan khususnya orang Kristen Injili menghadapi dua kenyataan penderitaan yakni penderitaan fisik dan moral.
            “Penderitaan merupakan bagian yang terpenting dan menarik perhatian media massa di manapun. Hal ini dlsebabkan karena penderitaan merupakan bagian dari kehidupan manusia.”[2]
Pernyataani Ini memberi gambaran bahwa selagi manusia berada di atas bumi ini penderitaan akan dialaminya.
            Pengalaman orang-orang non Kristen terhadap penderita­an. “ada yang mendapat hikmah besar dari suatu penderitaan, ada pula yang mengakibatkan kegagalan dalam hldupnya.”[3] Pen­deritaan juga dialami oleh orang-orang Kristen Injilisepanjang zaman.
            Dari uraian-uraian yang telah diketengahkan di atas maka tibalah pada sorotan teologis atas masalah penderitaam yang dialami orang Kristen Injili. Secara teologis prablema ini berpijak atas dasar Alkitab, khususnya Kejadian 3:1-2:1-. Beberapa dasar Alkitab yang lain yang terdapat dalam Perjanjian Baru seperti; Yohanes 9:1-2 Yoh 16:33; II Tim 3:12; I Petrus 2:19-20. Dalam konrtekb Kejadian 3, penderitaan atau. Kesusahan terjadi dalam kehidupan manusia karena dosa manusia itu sendiri.”[4]
            Di dalam Alkitab sering kali mengungkapkan penderitaan sebagai akibat dari pengujian imam (Ayub 1:1-2:13), umtuk menyatakan pekerjaan Allah atau untuk menyatakan kemuliaan Tuhan Yesus (Yohi 9:1-2), akibat yang lain; yakni mengambil bagian dengan persekutuan dengan Kristus (Yoh 16:33; II Tim. 3:12; I Petrus 2:19-20).
            Dalam sudut pandang teologis menjadi seoramg Kristen tidak berarti bebas dari penderitaan. Dengan. kata lain, orang yang, percaya Yesus Kristus sebagai Tuban dan Juruselamat masih juga mengalami penderitaan. Rasul Paulus berkata “memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya” (II Tim 3:12).
            Dimanapun manusia berada tidak akan luput dari penderitaan. Ini berarti semua orang mengalaminya, baik orang Kristen maupun non Kristen. “Intensitas penderitaan, ada yang berat dan ada yang ringan. Namun peranan individu juga menentukan berat tidaknya intensitas penderitaan.”[5]
            Seperti yang telah dikatakan penulis di atas, penderitaan merupakan suatu tema yang juga dibicarakan dalam Alkitab. Alkitab diyakini oleh orang-orang Kristen Injili sebagai Firman Allah. Oleh karena itu analisa terhadap penderitaan orang-orang Kristen Injili hendaknya dilakukan dalam terang Firman Allah.
            Pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul di sekitar penderitaan ialah mengapa manusia pada umumnya mengalami penderitaan? Sejalan dengan pertanyaan ini Thomas seorang warga Shertallay bertanya atas bencana kelaparan yang menimpa penduduk Shertallay pada bulan November 1941.[6] Melalui puisinya, Thomas  bertanya :[7]
            “Di manakah Allah? Apakah la tertidur sementara jiwa yang tidak terhitung menghadapi kubux yang sepi? Apakah la lihur panjang, sementara Malaikat maut gentayangan, dan kesepian mutlak berkuasa di tempat ini?”

            Sehubungan dengan bencana kelaparan di Shertallay seperti yang disebutkan di atas, Thomas berusaha mencari Allah di tengah-tengah bencana tersebut dengan mengajukan berbagai pernyataan melalui puisinya seperti berikut;[8]
            “... sia-sialah iman kepada Allah yang memelihara, sia -sialah kepercayaan kepada Bapa yang pengasih ... .Tapi untuk semuanya ini, mereka haras lenyap dan gugur, bagai bunga-bunga. di hutan, ... Dari debu mereka berasal, kepada debu pula mereka kembali. Dan Allah ti­dak peduli.”

            Jika demikian, kapan dan dimanakah manusia dibebaskan dari penderitaan? Kalau Allah ada mengapa ada penderitaan? Secara teologis dapat dipahami bahwa penderitaan masuk ke du­nia sebagai akibat dari pelanggaran manusia terhadap Firman Allah dan dunia yang sekarang menjadi lokasi penderitaan dan dunia yang akan datang adalah tempat dimana manusia yang percaya Yesus Eristus bebas dari penderitaan yang kekal (Wahyu 21:8). Hamun penulis tidak akan membahasnya di sini karena hal itu merupakan peristiwa yang bersifat eskatologis.
            Kembali kepada pertanyaan di atas, maka Allah diyakini sebagai Allah yang turut memperdulikan manusia yang menderita, karena Dia telah mengutus anak-Nya lesus Kristus untuk mati di kayu salib.
            Dalam hubungan dengan pernyataan di atas, maka dapat dipahami bahwa manusia yang tidak berdosapun dtlibatkan dalam penderitaan. Namun penderitaan yang dialami-Nya bukan karena kesalahan-Nya tetapi antuk keselamatan manusia berdosa.
            Dalam dunia kekristenan, penderitaan merupakan pengalaman yang senantiasa dialaml. Seiring dengan itu pertanyaan-pertanyaan juga muncul dalam kehidupan orang Kristen, mengapa orang Kristen menderita? Jawabanpun beraacam-macam tergantung dari konteks penderitaan itu.
            Fakta yang Alkitabiah yakni bahwa umat perdana selalu diperhadapkan dengan aniaya. Nasehat rasul Paulus “ ... Untuk masuk ke dalam kerajaan Allah kita haras mengalami banyak sengsara” (Kis 14:22). Aniaya/sengsara Juga pada gilirannya akan dialami oleh orang-orang percaya pada masa kini dan sepanjang sejarah umat manusia. “Oleh karena itu orang percaya mengalami penderitaan tetap menggumuli masalah penderitaan dan berusaha menampungnya dalam rangka imannya akan penyelamatan Allah dalam Kristus Yesus.”[9]
            Berbagai macam pertanyaan muncul, apakah Allah menghendaki penderitaan terjadi dalam kehidupan orang percaya? Apakah Allah memperdulikan orang-orang Kristen Injill yang mendirita? Dan apakah orang-orang Kristen Injili menganggap bahwa penderitaan merupakan bagian dari kehidupannya? Atau haruskah bebas dari penderitaan karena telah percaya Yesus Kristus?
            Bagaimana orang Kristen Injili menghadapi dan menggumuli masalah penderitaan ini? Untuk. memahami latar belakang terjadinya penderitaan dan maknanya maka Alkitabiah yang akan memberikan jawaban yang tepat.
            Alkitab dapat memberikan jawaban yang tepat karena Alkitab lalah kebenaran yang kekal. Kekekalan ini dimungkinkan. karena Alkitab merupakan Sabda Allah dan bukan sabda manusia.

Tujuan Penulisan
            Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan ini (1) Menjelaskan penderitaan yang dialami oleh orang-orang Kristen Injili, dari sudut pandang iman. Kristen. (2) Menganalisa penderitaan orang-orang Kristen Injili dalam bnbusgan - dengan dosa dan pewartaan Injil. (3) Mencari Jawaban secara teologis Alkitabiah terhadap penderitaan. (4) Mengetengahkan latar belakang, makna serta sikap yang positif dari ora­ng-orang Kristen Injili ternadap penderitaan.
            Dengan kata lain tujuan yang hendak dicapai dalam tulisan ini ialah bagaimana mengetahui serta memberikan penjelasan tentang penyebab-penyebab dan makna penderitaan secara teo­logis Alkitabiab serta sikap kristiani dalam menghadapi penderitaan, sehingga orang-orang Kristen Injili dalam kepercayaanya mampu “mempergunakan atau memanfaatkan penderitaan untuk hal-hal yang positif.”[10]

Ruang Lingkup Pembahasan
            Penulisan inl tidak membahas penderitaan secara mendetail karena masalahnya begitu kompleks. Dengan kata lain pe­nulis tidak akan membahas macam-macam penderitaan menurut pe­nyebab secara terperinci, antara lain; penderitaan alasan fisik seperti bencana alam, penyakit dan kematian; penderitaan karena alasan moral sepertl kekecewaan dalam hidup, kebencian orang lain dan seterusnya. Namun di antara dua penyebab penderitaan yang disebutkan di atas akan disinggung secara sepintas karena kedua penyebab penderitaan ltu tidak dapat disingkirkan dari kehidupan manusia khususaya orang Kristen Injili.
            Dengan demlkian maka yang akan dibahas di sini ialah latar belakang penderitaan, makna penderitaan serta sikap ora­ng-orang Kristen Injili dalam menghadapi penderitaan.
            Penderitaan yang akan dibanas di sini ialah penderitaan yang ada habungannya dengan dosa dan penderitaan sebagai akibat dari hidap Kekristenan yang sejati di dalam dunia yang tidak benar. Yang penulis maksudkan dengan Kekristenan sejati ialah kehidupan dalam pimpinan Roh Kudus (Roma &:9-11.
            Penulis jluga tidak akan membahas penderitaan kaum Injili dl seluruh dunia ataupun dl Indonesia secara menyeluruh tetapi hanya menganalisa penderitaan yang dialami umat Kristen perdana. Dalam hal ini pengalaaan rasul Paulus, Petrus, Yohanes, Stefanus mewakili pengalaman rasul-rasul yang lain serta beberapa martyr Kristen seperti uskup Polikarpus dan Blandina dari Lyon, dan beberapa pengalaaan pelayanan masa kini khususnya beberapa mahasiswa/i SETIA, dalam hal ini pengalaman tiga orang mahasiswi menjadi contoh adanya keayataan penderitaan dalam pelayanan masa kini, lebih khusus lagi dalam pengembangan G. K.S.I di bumi Indonesia.
            Dalam penulisan skripsi ini disinggung juga tentang sikap manusia non Kristen dalam menghadapi penderitaan, sehingga pada bab 4 penulis mencantumkan judul bab “sikap manusia terhadap penderitaan menurut konsep Alkitab”, namun hanya merupakan perbandingan saja.

Metode Penelitian
            Untuk menyelesaikan tulisan ini penulis mempergunakan metode-metode  seperti metode kualitatif. Dipergunakan metode ini karena sesuai dengan sistim penulisan skripsi yakni metode kualitatif menyajikan data dalam bentuk penelitian yang tidak mengadakan/perhitungan atau kuantitas.[11]
            Penulis juga menggunakan metode wawancara. Wawancara bersifat tak berstruktur artinya responden mendapat kebebasan dan keseapatan untuk mengeluarkan buah pikiran, pandangan dan perasaannya taapa diatur ketat oleh. peneliti.[12] Wawancara berlangsung, dengan beberapa mahasiswi Sekolah Tinggi Teologia Injili Arastamar (SETIA).
            Selain itu data diperoleh dari tinjauan pustaka. Kepustakaan yang dipakai terdiri atas buku-buku Ilmu Budaya Dasar, buku-buku teologia yang berhubungan dengan iudul dan isi skripsi.

Sistimatika Penulisan
            Bab 2 meagemukakan latar belakang penderitaan menurut koasep Alkitab yang sistimatika pembahasannya meliputi penderitaan ditinjau dari sudut fenomenalogis universal meliputi be­berapa topik pembahasan yang antara lain; penderitaan akibat pemberontakan maausia pertama, penderitaan akibat dari dosa orang lain, penderitaan akibat dosa pribadi, penderitaan aki­bat faktor internal dan eksternal. Sedangkan penderitaan ditinjau dari sudut pengalaman orang Kristen Injili yang mengetengahkan pembahasan tentang penderitaan berkenaan dengan nubuat Yesus Kristus, untuk menyatakan pekerjaan Allah, untuk mengikutl teladan Yesus Kristus, untuk melaksanakan amanat Agung Yesus Kristus yang di dalamnya membahas tentang penderi­taan akibat melawan dosa, pemberitaan Injil secara langsung maupun tidak langsung. Bab ini diakhiri dengan sebuah rangkuman awal.
            Bab 3 memaparkan makna penderitaan orang Kriaten Injili menurut konsep Alkitab. Materi pembahasan meliputi; sarana ujian iman, untuk kemuliaan Tuhan, untuk pertumbuhan iman dan juga membahas penderitaan sebagai sarana kasih karunla ya­ng bertujuan untuk kerendahan hati, demi kasih karunia dan demi pernyataan kemuliaan Yesus Kristus dan demi penyelamatan orang lain dari dosa. Pembahasan dalam bab ini diakhiri deng­an suatu rangkuman awal.
            Bab 4 mengetengahkan sikap manusia terhadap penderita­an menurut konsep Alkitab. Ulasan bab ini terdiri dari sikap manusia non Kristen, menghindari penderitaan, menerima pende­ritaan sebagai partner kesuksesan, menerima penderitaan seba­gai hambatan kesuksesan, menerima penderitaan sebagai taqdir. Sikap orang Kristen Injili di sini meliputi; menghadapi pende­ritaan dengan sikap doa, memahami Alkitab, rela, sabar dan tidak meremehkan. didikan Tuhan, serta menghadapi penderitaan de­ngan sikap iman dan pengharapan. Pembahasan dalam bab ini ditutup dengan suatu rangkuman awal.
            Bab 5 merupakan bab penutup yang berisi rangkuman akhir dan saran-saran, khususnya bagi orang-orang Kristin Injili da­lam menghadapi penderitaan.

Penjelasan Judul
            “Penderitaan” berasal dari kata dasar “derita” yang ditambah dengan awalan “pe” dan akhiran “an”. Menurut KUBI “derita/menderita artinya menanggung atau merasai sesuatu yang tidak menyenangkan.”[13]
            “Orang Kristen” adalah sebutan yang pertama kali diberikan kepada murid-murid yang percaya Yesus Kristus Antiokhia (Kis 11:26). Dalam, perkembangan sedlanjutnya istilah Kristen dikenakan kepada orang-Orang yang percaya Yesus Kristus. Sedangkan istilah. “Injil” artinya yang sesuai dengan isi Injil.
            Kata “analisa” penyelidikan suatu peristiwa atau karangan, perbuatan dan sebagainya, untuk mengetahui apa sebab-sebab agar bagaimana duduk perkaranya.”[14]
            “Teologis Alkitabiah” artinya pemahaman yang sesuai dengan isi Alkitab, karena kata teologis berasal dari kata “teologi” yang berarti ajaran atau doktrin (khususnya agama yang ada kaitannya dengan Allah).[15]
            Jadi yang terkandung dalam judul bagi penjelasan penulisan skripsi ini ialah upaya untuk mengetahui kebenaran peristi­wa penderitaan yang dialami oleh Orang-Orang Kristen Injili tolok ukur pengertian yang sesuai dengan kebenaran Alkitab.




                  [1]Djoko Widagdho dkk, Ilmu Budaya Dasar, hlm
                   [2]Ibid, hlm. 85
             [3]M. Munandar Soelaeman, IBD Suatu Pengantar, hlm. 66
             [4] J. Dwight Pentecost, Pertolongan Tuhan … hlm. 24
             [5] M. Munandar Soelaeman, IBD Suatu Pengantar, hlm. 660
             [6] A. A. Yewangoe, Theologia Crucis Di Asia, hlm. 102
             [7] Ibid, hlm. 103
             [8] A. A. Yewangoe, Theologia Crucis Di Asia, hlm. 103
             [9]C. Groenen, Soteriologi Alkitabiah, hlm. 223
             [10]J.L. Ch. Abineno, Penyakit Dan Penyembuhan, hlm. 46
             [11]Lexy J. Melong, Metodologi Kualitatif, hlm. 2.
             [12]S. Nasution, Metode Kualitatif Naturalistik, hlm. 72
             [13]W.J.S. Poerwadarminta, KUBI, hlm. 245
             [14]Ibid, hlm. 39,40
             [15] Henk ten Napel, Kamus Teologia Inggris – Indonesia, hlm. 160 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar